Penanganan Gangguan Bahasa Ekspresif Pada Anak

Penanganan Gangguan Bahasa Ekspresif Pada Anak

Gangguan bahasa ekspresif adalah kesulitan mengekspresikan maksud lewat bahasa lisan. Pemahaman bahasa si anak lebih baik daripada kemampuannya untuk berkomunikasi. Ini bisa terjadi karena trauma otak atau karena masalah perkembangan. Masalah perkembangan lebih umum terjadi pada anak-anak. Anak-anak yang bermasalah bahasa ekspresif tidak banyak bicara meskipun umumnya mereka  mengerti bahasa yang ditujukan pada mereka.

Bahasa ekspresif merupakan bahasa yang berisi curahan perasaan. Kalimat ekspresif adalah kalimat yang memiliki kata kerja menyatakan makna batin (ekspresif). Sedangkan kata ekspresif bermakna ‘tepat (mampu) memberikan/mengungkapkan gambaran, maksud, gagasan, perasaan’. Kata kerja yang menyatakan perasaan batin digunakan di dalam kalimat yang subjeknya berperan sebagai orang yang mengalami

Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, memberi tanda) atau auditorik. Dalam gangguan berbahasa ekspresif, anak mengalami kesulitan mengekspresikan dirinya dalam berbicara. Si anak tampak sangat ingin berkomunikasi. Namun mengalami kesulitan luar biasa untuk menemukan kata-kata yang tepat. Contoh: si anak tidak mampu mengucapkan kata “balon” ketika menunjuk sebuah balon yang dipegang oleh temannya. Di usia empat tahun, anak tersebut hanya mampu berbicara dengan kalimat yang pendek. Kata-kata yang sudah dikasai terlupakan ketika kata-kata yang baru dikuasai dan penggunaan struktur tata bahasa sangat di bawah tingkat anak seusianya.

Pada gangguan bahasa ekspresif, secara klinis kita bisa menemukan gejala seperti perbendaharaan kata yang jelas terbatas, membuat kesalahan dalam kosakata, mengalami kesulitan dalam mengingat katakata atau membentuk kalimat yang panjang dan memiliki kesulitan dalam pencapaian akademik, dan komunikasi sosial, namun pemahaman bahasa anak tetap relatif utuh. Gangguan menjadi jelas pada kira-kira usia 18 bulan, saat anak tidak dapat mengucapkan kata dengan spontan atau meniru kata dan menggunakan gerakan badannya untuk menyatakan keinginannya. Jika anak akhirnya bisa berbicara, defisit bahasa menjadi jelas, terjadi kesalahan artikulasi seperti bunyi th, r, s, z, y. Riwayat keluarga yang memiliki gangguan bahasa ekspresif juga ikut mendukung diagnosis.

Gangguan bahasa ekspresif (ungkapan), yaitu suatu gangguan yang terjadi saat seseorang menjalin komunikasi yang ditandai dengan ketidakmampuan (deficit) dalam mengungkapkan perasaan atau ide-idenya, meskipun pemahaman bicaranya normal (tidak mengalami gangguan). Seorang anak dikatakan mengalami gangguan dalam bahasa ekspresif bila terdapat jarak (discrepancy) antara apa yang dimengerti oleh anak (bahasa reseptif) dengan apa yang ingin mereka katakan (bahasa ekspresif). Gangguan berbahasa ekspresif harus dibedakan dengan gangguan lain yang saling berdekatan yaitu gangguan berbahasa reseptif. Seseorang dikatakan memiliki gangguan berbahasa yang sifatnya reseptif bila ia mengalami kesulitan dalam memahami beberapa aspek dari bicara. Meskipun pendengaran mereka normal namun anak yang memiliki gangguan ini tidak dapat memahami suara-suara, kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Penderita gangguan ini mengalami kesulitan memahami bagian tertentu dari kata-kata atau pernyataan-pernyataan, misalnya kalimat atau pernyataan yang berbentuk “jika … maka …”. Dalam beberapa kasus yang berat, anak tidak mampu memahami kosa kata dasar atau kalimat sederhana, dan kemungkinan besar mereka juga mengalami ketidakmampuan mengolah suara, simbol-simbol, menyimpan (storage), memanggil (recall) dan merangkai (sequencing) melalui pendengaran (auditori).
Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan gangguan komunikasi menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan komunikasi antara lain adalah faktor genetik, fungsi otak, infeksi telinga dan lingkungan yang berisiko.

Gangguan bahasa ekspresif dan gangguan komunikasi lain yang sejenis, merupakan gangguan yang dapat dikoreksi oleh anak secara mandiri bersamaan dengan berjalannya waktu pada usia sekitar 6 tahun, tanpa memerlukan intervensi atau penanganan khusus. Meskipun demikian orang tua dianjurkan untuk mencari pertolongan dalam rangka memahami keterlambatan bicara anak dan untuk memastikan bahwa mereka telah melakukan semua yang mungkin dapat dilakukan dalam menstimulasi perkembangan bahasa anak.

Seorang anak berusia 4 tahun bisa saja mengerti cerita yang dibacakan untuknya, tapi dia tidak bisa menceritakan kembali isinya bahkan dengan kalimat-kalimat naratif pendek. Permainan khayal dan penggunaan bahasa untuk fungsi sosial (misalnya dalam percakapan, sikap) juga bisa terpengaruh dari terbatasnya kemampuan bahasa ekspresif si anak. Gangguan ini mengakibatkan kesulitan bermain dengan anak-anak sebayanya.  Anak-anak ini sebetulnya ingin mengatakan banyak hal tapi tidak dapat mengingat kata-kata yang diperlukan. Beberapa anak tidak bermasalah dengan kalimat-kalimat dasar yang mudah tapi mengalami kesulitan mengingat dan mengatur kata dan kalimat untuk menyampaikan sesuatu yang lebih kompleks. Ini bisa terjadi waktu mereka mencoba menggambarkan, memberi definisi, atau menjelaskan suatu informasi atau menceritakan kembali sebuah kejadian

Ekspresi bahasa memiliki enam komponen, yaitu:

  • Fonem, yaitu satuan terkecil dari bunyi ujaran yang dapat membedakan arti.
  • Morfem, merupakan unit terkecil dari bahasa yang mengandung makna.
  • Sintaksis, yaitu berkenaan dengan tata bahasa bagaimana kata-kata disusun untuk membentuk kalimat
  • Semantik, berkenaan dengan frasa, klausa, dan kalimat.
  • Prosodi, berkenaan dengan penggunaan irama yang layak, intonasi, dan tekanan pola-pola bahasa.
  • Pragmatik, berkenaan dengan cara menggunakan bahasa dalam situasi sosial yang sesuai.

5 gangguan ekspresi bahasa

  1. Kekurangan Kognitif Kesulitan memahami dan membedakan makna bunyi wicara. Anak sering memiliki problema auditoris, yaitu kesulitan untuk memahami dan membedakan makna bunyi wicara. Kondisi semacam itu menyebabkan anak rnengalami kesulitan untuk merangkai fonem, segmentasi bunyi, rnembedakan nada, mengatur kenyaringan, dan mengatur durasi bunyi. Kesulitan membentuk konsep dan mengembangkannya ke dalam unit-unit semantik. Pemahaman terhadap unit-unit semantik (kata dan konsep) menunjukkan adanya pengetahuan tentang kekeluargaan kata secara tepat. Banyak di antara anak-anak berkesulitan belajar yang merniliki masalah dalam pembentukan konsep dan dalam menghubungkan unit-unit semantik. Kesulitan Mengkiasifi kasikan Kata. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan dalam mengelompokkan kata-kata. Kesulitan dalam relasi semantik. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan untuk menemukan dan menetapkan kata yang ada hubungannya dengan kata lain. Kesulitan dalam memahami sistem semantik. Banyak anak berkesulitan belajar yang memiliki kesulitan dalam membaca pemahaman, dalam matematika, dan dalam penalaran ruang dan waktu. Kesulitan ini diduga berkaitan dengan adanya kesulitan dalam pemrosesan bahasa auditoris. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan dalam bercerita dan penjelasan mereka sering tidak tersusun secara baik dan benar. Transformasi semantik. Anak berkesulitan belajar .sering mengalami kesulitan dalam pembuatan transformasi semantik sehingga mengalami kesulitan dalam menggunakan kata banyak makna, langgam suara (idioms), dan kiasan (metaphors). Implikasi semantik. Anak berkesulitan belajar sering rnengalami kesulitan dalam memahami pepatah, cerita perumpamaan, dongeng, atau mitos.
  2. Kekurangan dalam Memori  Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa anak berkesulitan belajar sering memperlihatkan kekurangan dalam memori auditoris. Adanya kekurangan dalam memori auditoris tersebut dapat menimbulkan kesulitan dalam memproduksi bahasa. Sering memperlihatkan adanya kekurangan khusus dalam mengulang urutan fonem, mengingat kembali kata-kata, mengingat simbol, dan memahami hubungan sebab-akibat.
  3. Kekurangan Kemampuan Menilai Penilaian merupakan bagian integral dari proses bahasa karena menjadi jembatan antara pemahaman dengan produksi bahasa. Anak berkesulitan belajar sering memiliki kesulitan daiam menilai kemantapan atau keajegan arti dari suatu kata baru terhadap informasi yang telah mereka peroleh sebelumnya. Akibatnya, anak mungkin akan menerirna saja kalimat atau kata yang salah. Anak juga sering mengalami kesulitan dalam mengenal kesalahan-kesalahan sintaksis, dan setelah mereka tahu kesalahan-kesalahan tersebut, mereka juga tidak dapat memperbaikinya.
  4. Kekurangan Kemampuan Produksi Bahasa Produksi bahasa akan dipermudah oleh adanya kemampuan mengingat, perilaku afektif dan psikomotorik yang baik. Karena anak-anak berkesulitan belajar umumnya memiliki taraf perkembangan berbagai kernampuan tersebut secara kurang memadai, maka mereka banyak yang mengalami kesulitan dalam memproduksi bahasa. Ada dua jenis kemampuan produksi bahasa, kemampuan produksi konvergen dan kernampuan produksi devergen. Kemampuan produksi konvergen berkenaan dengan kemampuan menggambarkan kesimpulan logis dari informasi verbal dan memproduksi jawaban semantik yang khas. Kemampuan produksi devergen berkenaan dengan kelancaran, keluwesan keaslian, dan keluasan bahasa yang diproduksi. Kemampuan produksi konvergen dapat dilihat dari kernarnpuan anak dalam (1) mengucapkan kata-kata dan konsep-konsep, (2) melengkapi asosiasi verbal dan analogi, (3) merumuskan gagasan dan problema-problema verbal, (4) merumuskan kembali konsep dan ide, dan (5) merumuskan berbagai alternatif pemecahan rnasalah. Anak-anak berkesulitan belaiar umumnya rnemiliki kesulitan dalam produksi konvergen maupub devergen
  5. Kekurangan Pragmatik Anak berkesulitan belajar umumnya memperlihatkan kekurangan dalam mengajukan berbagai pertanyaan, memberikan reaksi yang tepat terhadap berbagai pesan, menjaga atau mempertahankan percakapan, dan mengajukan sanggahan berdasarkan argumentasi yang kuat. Anak berkesulitan belajar umumnya juga kurang persuasif dalam percakapan, lebih banyak mengalah dalam percakapan, dan kurang mampu mengatur cara berdialog dengan orang lain.

Perkembangan Normal Bahasa Ekspresif Pada Anak

  • Kelahiran  Bayi yang baru lahir membuat suara yang membiarkan orang lain tahu bahwa mereka mengalami kesenangan atau penderitaan.
  • 0-3 Bulan Bayi Anda tersenyum pada Anda ketika Anda masuk ke tampilan. Dia mengulangi suara yang sama banyak dan “berbisik dan goos” bila konten. Teriakan “membedakan”. Itu berarti, bayi menggunakan menangis berbeda untuk situasi yang berbeda. Misalnya, salah satu menangis berkata “Aku lapar” dan yang lain mengatakan “Saya sakit”.
  • 4-6 bulan Gemericik suara atau “bermain vokal” terjadi saat Anda sedang bermain dengan bayi Anda atau ketika mereka menempati sendiri bahagia. Mengoceh akan benar-benar mendapat dalam rentang usia ini, dan bayi Anda kadang-kadang akan terdengar seolah-olah dia adalah “berbicara”. Ini “pidato-seperti” mengoceh mencakup banyak suara termasuk) bilabial (dua bibir bunyi “p”, “b” dan “m”. Bayi dapat memberitahu Anda, menggunakan suara atau isyarat bahwa mereka menginginkan sesuatu, atau ingin Anda melakukan sesuatu. Mereka bisa membuat sangat “mendesak” suara untuk meminta Anda ke dalam tindakan.
  • 7-12 bulan Hal ini karena sekarang termasuk konsonan lebih, serta vokal panjang dan pendek.mDia menggunakan pembicaraan atau suara lainnya (yaitu, selain menangis) untuk mendapatkan perhatian dan memegang dengan jelas.’s Bayi pertama Anda Dan kata-kata (mungkin tidak berbicara dengan sangat) telah muncul! (“Mama”, “Doggie”, “Night” Night, “Bye Bye”).
  • 1-2 tahun Bayi  akan menanyakan pertanyaan 2 kata seperti “Di mana bola?” “Apa itu?” “Lebih chippies”? “Apa itu,?” Dan menggabungkan dua kata dengan cara-cara lain untuk membuat Tahap 1 Kalimat Jenis (“Birdie pergi”, “Tidak” anjing, “push Lagi”). Kata-kata menjadi lebih jelas sebagai konsonan awal lebih banyak digunakan dalam kata-kata.
  • 2-3 tahun Bisa merangkai 2-3 kata. Dia tampaknya memiliki kata hampir segalanya. Ucapan-ucapan biasanya satu, dua atau tiga kata yang panjang dan anggota keluarga biasanya dapat memahami mereka. Anak Anda mungkin meminta, atau menarik perhatian Anda untuk sesuatu dengan menamai itu (“Gajah”) atau salah satu atributnya (“Big)!” atau komentar (“Wow!”).
  • 3-4 tahun Dapat menggabungkan empat atau lebih kata-kata berbicara dalam satu kalimat. Berbicara hal-hal yang terjadi jauh dari rumah, dan tertarik dalam berbicara tentang pra-sekolah, teman, wisata dan pengalaman menarik. Bicara semakin fasih dan jelas dan “orang lain” dapat memahami apa yang dikatakan anak Anda sebagian besar waktu. Jika gagap terjadi, melihat-bahasa patolog gangghuan bicara Gagap bukan merupakan bagian normal dari belajar untuk berbicara, dan tidak adalah suara serak yang persisten
  • 4-5 tahun Anak berbicara dengan jelas dan fasih dalam yang mudah untuk mendengarkan-suara-. Ia dapat membangun dan rinci kalimat panjang (“Kami pergi ke kebun binatang tapi kami harus pulang lebih awal karena Josie merasa tidak enak badan”). Dia atau dia bisa kirim dan terlibat cerita panjang menempel topik, dan menggunakan “dewasa seperti” tata bahasa. Kebanyakan suara diucapkan dengan benar, meskipun ia mungkin lisping sebagai empat tahun, atau, pada lima, masih memiliki kesulitan dengan “r”, “v” dan “th”. Anak Anda dapat berkomunikasi dengan mudah dengan orang dewasa dan akrab dengan anak-anak lainnya. Mereka mungkin mengatakan fantastis “cerita tinggi” dan orang asing terlibat dalam percakapan saat Anda pergi bersama-sama.

Tanda-tanda gangguan bahasa ekspresif

Berikut ini adalah gejala yang paling umum gangguan komunikasi. Namun, setiap anak mungkin mengalami gejala yang berbeda.

  • Mungkin tidak berbicara sama sekali, atau mungkin memiliki kosakata yang terbatas untuk usia mereka.
  • Apakah kesulitan memahami petunjuk sederhana atau tidak mampu untuk nama benda
  • Menunjukkan masalah dengan sosialisasi.
  • Ketidakmampuan untuk mengikuti arah tetapi pemahaman menunjukkan dengan rutin, arah berulang-ulang.
  • Echolalia (mengulangi kembali kata-kata atau frasa baik langsung atau di lain waktu.)
  • Ketidaksesuaian tanggapan ke “wh” pertanyaan
  • Kesulitan tanggapan yang sesuai untuk: ya / tidak pertanyaan, baik / atau pertanyaan, siapa / apa / mana pertanyaan, ketika / mengapa / bagaimana pertanyaan
  • Mengulang kembali pertanyaan pertama dan kemudian menanggapi mereka
  • Aktivitas tinggi tingkat dan tidak menghadiri untuk bahasa lisan
  • Jargon (bicara tidak dapat dimengerti)
  • Menggunakan “hafal” frase dan kalimat
  • Memiliki masalah dengan kata-kata atau kalimat, baik pemahaman dan berbicara mereka
  • Mempunyai masalah gangguan belajar dan kesulitan akademis

Diagnosis

  • Untuk mendiagnosa gangguan bahasa ekspresif, anak harus tampil di bawah rekan-rekan mereka pada tugas-tugas yang memerlukan komunikasi dalam bentuk bicara. Hal ini dapat sulit untuk menentukan karena harus ditunjukkan bahwa seseorang memahami materi, tetapi tidak bisa mengekspresikan pemahaman itu. Oleh karena itu, tes non-verbal harus digunakan selain untuk tes yang membutuhkan jawaban lisan.
  • Pendengaran juga harus dievaluasi, karena anak yang tidak mendengar dengan baik memiliki masalah menyusun kalimat yang sama dengan anak dengan gangguan bahasa ekspresif. Pada anak-anak yang agak tuna rungu, masalahnya sering dapat diatasi dengan menggunakan alat bantu dengar untuk meningkatkan anak mendengar dalam. Selain itu, anak-anak yang berbicara dengan bahasa lain selain Bahasa Inggris (atau dominan bahasa mereka dari masyarakat) yang di rumah harus diuji bahwa bahasa jika memungkinkan. Kemampuan anak untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dapat menjadi masalah, bukan anak kemampuan untuk berkomunikasi secara umum.

The Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental,DSM-IV-TR), edisi keempat, teks revisi (empat kriteria untuk mendiagnosis gangguan bahasa ekspresif. Anak berkomunikasi menggunakan bicara pada tingkat yang kurang berkembang dari yang diharapkan untuk atau wanita kecerdasan dan kemampuan untuk mengerti bahasa lisan. Ini masalah dengan komunikasi menggunakan pidato harus menciptakan kesulitan bagi anak dalam kehidupan sehari-hari atau dalam mencapai tujuan. Anak harus memahami apa yang sedang dibicarakan pada tingkat yang sesuai dengan usia, atau pada tingkat perkembangan yang konsisten dengan anak. Jika tidak, diagnosis harus dicampur bahasa ekspresif gangguan-reseptif. Jika anak mengalami keterbelakangan mental , pendengaran yang buruk, atau masalah lain, kesulitan dengan pidato harus lebih besar dari umumnya terkait dengan anak cacat yang telah.

Penanganan

  • Penanganan yang digunakan untuk gangguan bahasa ekspresif.Harus melibatkan anak  dengan ahli terapi bicara pada jadwal rutin dan berlatih bicara dan keterampilan komunikasi. Melibatkan anak orang tua dan guru bekerja sama untuk menggabungkan bahasa lisan bahwa anak kebutuhan dalam kegiatan sehari-hari dan bermain. Kedua jenis perawatan dapat efektif, dan sering digunakan bersama.
  • Pendekatan task analysis approach merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam upaya penanggulangan kesulitan bahasa. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak berkesulitan bahasa dengan jalan menganalisis arti kata (semantik), struktur bahasa (sintak dan morphologi) dan fungsi bahasa (pragmatik) secara bertahap dan dalarn tugas yang diuraikan secara rinci. Sebagai contoh ” makan” untuk rnenjelaskan makna makan maka pada anak diperlihatkan baik secara kongkrit ataupun melalui media (gambar, rekaman. dll) kegiatan individu yang sedang makan, diperlihatkan proses yang dilakukan dalam kegiatan makan, diperlihatkan perbandingan kegiatan makan dengan kegiatan yang lain seperti kegiatan dalam mencuci piring. Dalam setiap proses yang dilakukan dalam kegiatan tersebut, guru menyebutkan nama kegiatan yang sedang berlangsung dan meminta anak untuk menanggulanginya. Kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan sampai anak dapat memahami berbagai konsep yang berkaitan dengan kata “makan”
  • Pendekatan Perilaku untuk mengatasi masalah bahasa yang dialami anak yang berkesulitan bahasa dengan jalan melakukan perubahan perilaku berbahasa dan berkomunikasi yang diperlihatkan anak atau behavior modification. Dalam prosedur pelaksanaannya, pendekatan ini dilakukan dengan memperhatikan interaksi interpersonal anak dengan teman-teman sebayanya atau orang ,vang berada di sekitarnya, dan ungkapan-ungkapan verbal yang diperlihatkan oleh anak. Hasil observasi tersebut akan menjelaskan apakah perilaku anak dalam melakukan ungkapan verbal sesuai atau tidak sesuai dengan konteksnya dan temuan ini menjadi dasar untuk program remedial yang ditekankan pada perubahan perilaku yang bertujuan untuk perbaikan atau perubahan perilaku berbahasa dalam berkomunikasi, khususnya. dalam bahasa verbal.
  • Pendekatan Proses Pendekatan proses adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk memperkuat dan menormalisir proses yang berkaitan dengan proses dasar bahasa yaitu proses penerimaan bahasa dan proses rnengekpresikan bahasa. Dalam pelaksanaannya, pendekatan proses menekankan pada intervensi dalam bidang persepsi auditori, ingatan. asosiasi. Interpretasi dan ekspresi verbal. Kegiatan remedial (penanggulangan masalah kesulitan belajar) ditujukan untuk memperkuat pemahaman bahasa dan keterkaitan integratif antara persepsi auditori, ingatan. asosiasi, interpretasi yang sangat diperlukan dalam ekspresi verbal. Kegiatan ini dilakukan secara lisan dan tertulis.
  • Pendekatan Interpersonal Interakfif Pendekatan interpersonal interaktif (personal interactive approach) bertujuan untuk memperkuat kemampuan bahasa dalam bidang pragmatik dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi anak yang berkesulitan bahasa. Secara khusus, tuiuan dari pendekatan ini adalah untuk memperkuat kemampuan dalam menginterpretasikan isyarat-isyarat bahasa secara kontekstual yang dapat merubah makna dari suatu ekspresi verbal. Seperti dalam ungkapan “Bukakan pintu” adalah kalimat perintah. kalimat ini akan berubah maknanya apabila diungkapkan dalam ekspresi verbal yang rnembentak “Bukakan pintu!” yang dapat diinterpretasi suatu ungkapan verbal yang menunjukkan kemarahan.
  • Pendekatan Pengaturan sistem Lingkungan secara Menyeturuh Pendekatan Pengaturan sistem lingkungan secara menyeluruh (total environment system approach) bertujuan untuk melakukan intervensi bahasa dengan melakukan pengaturan sistem lingkungan secara menyeluruh, yang mencakup situasi dan peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya yang dapat mendorong anak untuk melakukan berbagai interaksi dalam berkomunikasi dan mengekspresikan bahasa verbal. Pendekatan holistik yang dilakukan melalui pengaturan sistem lingkungan secara menyeluruh atau disebut dengan istilah “A Whole Language Aproach” merupakan pendekatan yang sangat efektif, khususnya untuk memperkuat kemampuan dan adaptasi berkomunikasi dalam berbagai bidang pekerjaan dan berbagai profesi. A whole Language Aproach juga sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan komunikasi anak usia dini, terutama bagi anak yang telah menguasai kemampuan dalam aturan-aturan dasar berbahasa (basic linguistic rules), ekspresi verbal dan pemahaman ungkapan bahasa verbal. Dengan demikian kemampuan menulis dan ungkapan tertulis tidak menjadi prasyarat dalam pelaksanaan pendekatan ini.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s